Senin, 12 November 2012

Tapaktuan : Kota Naga di Selatan Pulau Sumatera


Ucapan Selamat Datang

Panorama Hatta

Tapaktuan adalah ibu kota dari Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Kota ini memiliki luas 92,68 km² dengan jumlah penduduk sekira 22,343 jiwa. Saat Tsunami 2004, kota ini terlindungi Pulau Simeulue sehingga terjangan ombak yang dahsyat terpecah dan berkurang intensitasnya ketika sampai di pesisir pantai. Kota Tapaktuan menyimpan cerita menarik tentang legenda naga dan wisata bahari yang alami belum banyak diketahui dan dikunjungi.
Topografi kota ini di ketinggian 500 m dpl membawanya pada iklim tropis basah dengan keindahan alam, gugusan pantai berkarang, dan teluk yang memesona. Wisata bahari dapat dilakukan di sini, seperti di Pantai Teluk Tapaktuan dan Pantau Labuhan Haji. Ada pula tujuan wisata menarik lainnya, yaitu, Wisata Air Dingin, Panorama Hatta, Pulau Dua, Genting Buaya, Ia Sejuk Panjupian, Air Terjun Twi Lhok, Batu Berlayar, atau Gua Kalam.
Tapaktuan merupakan kota di pesisir selatan pantai Aceh yang posisinya strategis dengan pelabuhan alam dan menjadi basis ekonomi kelautan di Provinsi Aceh.  Wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Tenggara di utara, di selatan dengan Samudera Indonesia, di barat dengan Kabupaten Aceh Barat Daya, dan di timur dengan Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam.
Tapaktuan dikenal dengan sebutan Kota Naga dimana berasal dari sebuah Legenda Putri Naga dan Tuan Tapa yang sudah menjadi sejarah lisan masyarakatnya secara turun temurun. Orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, saat Anda memasuki kota ini, sekira seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan maka akan melihat gambar naga tepat di dinding pinggir jalan.
Legenda Naga mengisahkan tentang sepasang naga jantan dan betina yang mendiami teluk (Tapaktuan). Keduanya diusir dari negeri Tiongkok karena tidak memiliki anak. Suatu ketika kedua naga ini mendapati sesosok bayi perempuan terapung di lautan kemudian dipelihara dengan penuh kasih sayang. Beranjak dewasalah bayi tersebut menjadi gadis cantik yang disayangi pasangan naga tersebut.
Telapak kaki Tuan Tapa

Suatu ketika munculah sebuah kapal dari Kerajaan Asralanoka di India Selatan dimana 17 tahun yang lalu rajanya kehilangan bayi yang hanyut ke laut. Sang raja mengenali gadis itu sebagai bayinya yang hilang dahulu dan hendak meminta kepada sepasang naga tersebut untuk mengembalikannya. Akan tetapi, sepasang naga itu menolak sehingga menimbulkan perkelahian di lautan dan mengusik seorang petapa yang bertubuh besar dan berdiam di Gua Kalam, yaitu dikenal sebagai Tuan Tapa.
Tuan Tapa yang terusik saat sedang bertapa segera melerai perkelahian sepasang naga dengan raja dari Kerajaan Asralanoka. Tuan Tapa meminta sepasang naga untuk mengembalikan sang gadis kepada orang tuanya. Akan tetapi, kedua naga tersebut menolak dan malah menantang Tuan Tapa untuk bertarung. Terjadilah perkelahian di laut dimana kedua naga kalah oleh Tuan Tapa dan gadis pun dikembalikan kepada orang tuanya. Gadis tersebut kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’ dan kembali bersama orang tuanya tetapi mereka tidak kembali ke Kerajaan Asralanoka melainkan memilih menetap di pesisirnya. Keberadaan mereka diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan.
Naga jantan mati terbunuh akibat pukulan tongkat Tuan Tapa. Tubuhnya hancur berserakan dan darah berceceran menyebar memerahkan tanah, bebatuan, bukit, dan juga air laut. Hati dan tubuh naga hancur berkeping-keping menjadi bebatuan hitam berbentuk hati yang saat ini dapat dilihat membekas di sisi pantai (baca: dikenal sebagai Batu Itam). Darah naga yang membeku menjadi batu (baca: dikenal sebagai Batu Merah). Begitu pula sisa pijakan kaki Tuan Tapa nampak terlihat, tongkat dan sorbannya juga turut membatu hitam beberapa ratus meter dari kedua tapak kaki sang petapa di pinggir pantai.
Sementara itu, sang naga betina yang melihat pasanganya tewas segera melarikan diri kembali ke negeri Tiongkok. Sebelumnya, ia mengamuk dengan membelah sebuah pulau menjadi dua  (baca: sekarang Puau Dua) dan memporak-porandakan pulau terbesar hingga menjadi 99 buah pulau kecil tersebar. (baca: saat ini gugusan pulau tersebut dikenali sebagai Pulau Banyak di Kabupaten Aceh Singkil).
Setelah kejadian itu, Tuan Tapa sakit, seminggu kemudian meninggal pada Ramadhan tahun 4 Hijriyah. Jasadnya makamkan di dekat Gunung Lampu, tepatnya di depan Mesjid Tuo, Gampong Padang, Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan. Hingga saat ini makam manusia keramat itu sering dikunjungi peziarah dalam dan luar negeri. Makamnya sendiri pernah mengalami beberapa kali pemugaran semasa Pemerintahan Hindia Belanda. Pada 2003 Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah berziarah ke Makam Tuan Tapa.


Makam Tuan Tapa
Anda dapat membaca utuh legenda masyarakat Aceh Selatan ini dalam sebuah buku, “Legenda Tapaktuan dan Kisah Naga Memelihara Bayi Raja” yang ditulis Daruk Qutni Ch, terbit 2002. Buku tersebut pernah meraih juara tiga dalam Sayembara Penulisan Buku Bacaan Fiksi 1996 tingkat nasional.

Sabtu, 10 November 2012

Manisan Pala

Aceh selatan merupakan daerah penghasil pala nomor 1 di Aceh. Dan manisan pala adalah salah satu hasil industri rumah tangga yang paling terkenal di Aceh Selatan. Selain manisan pala sebernarnya ada beberapa hasil olahan dari pala lainnya yang juga menjadi produk andalan daerah tersebut seperti sirup pala, minyak pala dan masih banyak lainya.
Manisan pala merupakan jenis makanan selingan yang bisa dikatakan termasuk dalam golongan manisan buah-buahan, ya karena memang terbuat dari buah pala. Ada beberapa bentuk  manisan pala yaitu berbentuk bunga dengan taburan gula, dari bentuknya saja sudah menarik dan rasanya pun bisa katakan kolaborasi antara manis-manis dan pahit. Dan berbentuk yang diris-iris lebih kecil. Dan ada juga yang namanya manisan pala kolak yang dipotong kecil-kecil rasanya manis sedikit berbeda pala yang berbentuk sebelumnya. Barangkali ada diantara Anda yang berminat mencicipi manisan pala khas Aceh Selatan. Anda bisa menemukan salah satu situs di internet yang menjual manisan pala. Anda tertarik silahkan kunjungi manisanpala.com.

Jumat, 09 November 2012

Objek Wisata Aceh Selatan


Kabupaten Aceh Selatan beribukotakan Tapak Tuan. Di Kabupaten ini banyak terdapat obyek-obyek pariwisata alam yang indah dan wisata pantai yang mempesona. Dikabupaten ini mayoritas masyarakatnya adalah suku Aneuk Jamee, yang bahasanya terdengar seperti bahasa minang. Berikut sebagian tempat-tempat wisata yang ada di Tapaktuan:
1. Pantai Air Dingin


Pantai yang landai ini sangat unik dan eksotik, karena berdekatan dengan lokasi air terjun yang juga sangat indah.  Lokasi ini terletak di Kecamatan Samadua, jarak tempuh sekitar 17 km dari Kota Tapaktuan, Kab. Aceh Selatan. Pengunjung yang datang tidak hanya masyarakat sekitar, akan tetapi dari luar daerah juga banyak yang berwisata disini. Biasanya ramai pada hari libur ataupun akhir pekan.
2. Pantai Batu Berlayar

Lokasi Wisata Pantai ini sangat indah dengan panorama alam yang sungguh mempesona. Pantai Batu Berlayar terletak di Kecamatan Sama Dua, Kabupaten Aceh Selatan. Selain indah dengan pemandangannya, di pantai ini juga bisa dijadikan tempat untuk memancing ikan.


3. Air Terjun Tingkat Tujuh

Tempat wisata ini sangat menarik, karena terdapat air terjun yang bertingkat, sampai tujuh tingkatan. Setiap tingkatan tersebut memiliki kolam yang dapat digunakan untuk berenang. Lokasi ini terletak Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Lokasi wisata yang patut dikunjungi karena pemandangannya sangat indah dengan pepohonan yang rindang dan sejuk. Cocok bagi rekreasi akhir pekan yang ingin bersantai menikmati udara sejuk.
4. Tuan Tapa

Dalam legenda Putri Naga karangan Darul Cutni CH diceritakan, zaman dahulu hidup sepasang naga jantan dan naga betina di Teluk (sekarang Tapaktuan). Naga itu berasal dari Cina. Mereka diusir oleh rajanya di Cina karena tidak mempunyai anak, larilah dia ke Teluk. Kedua naga itu selalu berdoa agar dikaruniai keturunan. Suatu ketika mereka menemukan bayi yang hanyut di laut. Bayi perempuan itu diambil dan dipelihara serta diberi nama Putri Bungsu. Ia tumbuh menjadi putri yang cantik.
Pada suatu ketika muncul kedua orang tua Putri Bungsu dari Kerajaan Asralanoka, sebuah kerajaan di pesisir India Selatan, untuk mencari sang bayinya yang hanyut 17 tahun yang lalu. Saat meminta kembali putrinya, terjadi pertengkaran dengan sang naga. Ketika terjadi pertengkaran itulah muncul seorang manusia yang bernama Tuan Tapa dari tempat persemediannya di daerah Goa Kalam. Tuan Tapa meminta kesediaan sang naga untuk mengembalikan Putri Bungsu kepada orang tuanya. Tapi naga menolak dan mereka malah menantang Tuan Tapa untuk berduel.
Terjadilah pertarungan sengit antara naga dan Tuan Tapa, yang akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh Tuan Tapa. Putri Bungsu berhasil diselamatkan dan diserahkan kepada orang tuanya. Naga jantan mati terbunuh oleh libasan tongkat Tuan Tapa, sedangkan naga betina sempat melarikan diri ke Cina sambil memporak porandakan apa saja yang dilaluinya. Naga betina membelah dua sebuah pulau di daerah Bakongan (sekarang dikenal dengan Pulau Dua), memporak porandakan sebuah pulau besar lainnya sehingga menjadi 99 buah pulau kecil, sekarang dikenal dengan Pulau Banyak di Aceh Singkil. Bekas naga jantan yang mati dilibas oleh Tuan Tapa diyakini sampai kini masih dapat disaksikan, hati dan tubuh naga yang hancur berkeping menjadi batu, yang dikenal dengan Batu Itam. Sedangkan, darahnya membeku menjadi batu, dikenal dengan Batu Merah. Sedangkan telapak kaki, tongkat, peci dan makam Tuan Tapa terdapat di sekitar Kota Tapaktuan, ibu kota Aceh Selatan.
5. Pantai Gunung Cut

6. Gunung Alur Naga

Selain obyek-obyek wisata diatas masih banyak lagi obyek wisata yang menarik untuk di kunjungi di Kab. Aceh Selatan ini.